Keragaman Budaya Daerah Banten

Keragaman Budaya Daerah Banten

Nama : Yudha Qanstantin

NPM : 17112894

Kelas : 1KA19

NPM : 17112894

Daftar ISI

 

BAB.1. Pendahuluan

1.1       Latar Belakang

1.2       Pengertian Kebudayaan

BAB.2. Pembahasan

2.1 Sejarah Banten

2.2 BUDAYA BANTEN DAN PERUBAHAN-PERUBAHANNYA

 

BAB.3. Penutup

3.1 Penutup

3.2 Daftar Pustaka

    BAB 1

     Pendahuluan

1.1Latar Belakang

Pada era global seperti sekarang ini, teknologi informasi sangat diperlukan dalam penunjang

Berbagai macam bidang dalam sebuah Negara. Tidak dipungkiri lagi, teknologi informasi sekarang sudah merata dalam bidang kebudayaan setiap bangsa dan Negara.
Teknologi informasi sendiri memiliki keuntungan dalam bidang kebudayaan setiap daerah yang dimiliki oleh suatu bangsa, demi melestarikan dan membuat budaya tersebut tetap hidup di jaman era globalisasi seperti saat ini.

Sehingga tidak perlu ditakutkan lagi akan kehilangan budaya yang sudah turun temurun dari nenek moyang sampai saat ini. Di era globalisasi seperti saat ini, budaya westeren ( kebarat-barat`an) sudah merasuki setiap sendi-sendi Negara. Ini terjadi karena pada era globalisasi seperti saat ini setiap Negara  lebih terbuka antar satu dan yang lainnya berbagi informasi, budaya, dan kebiasaan tentunya dari yang positif hingga negative.

Kemajuan teknologi informasi saat ini sangat diperlukan untuk bidang kebudayaan, kenapa? Karena pada salah satu fitur teknologi informasi adalah intinya, kita sebagai user dari teknologi informasi itu sendiri bisa berbagi baik berbagi dalam Negara sendiri maupun Negara luar. Dengan adanya ini semua, budaya yang ada pada setiap daerah bangsa dan Negara tetap eksis ( terkenal ) dan tidak adanya penyelewengan Negara lain yang mengaku-ngaku suatu budaya Negara lain sebagai budaya negaranya sendiri sejak nenek moyang jaman dahulu.

Indonesia adalah Negara yang luas. Terbentang dari sabang sampai merauke.
Tidak di ragukan lagi Indonesia sebagai Negara yang kaya akan budaya memiliki daerah, agama,
Suku bangsa yang berbeda, dan tentunya Indonesia memiliki budaya yang memiliki ciri khas setiap daerahnya.

 

1.2 Pengertian kebudayaan

Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan , tindakan dan hasil cipta, karsa, dan rasa manusia untuk memenuhi kebutuhan kehidupannya dengan cara belajar yang semuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat.

Terdapat tujuh unsur  kebudayaan sebagai cultural universal yang didapatkan pada semua bangsa di dunia, antara lain :

1.    Bahasa ( lisan maupun tertulis)

2.    Sistem teknologi ( peralatan dan perlengkapan hidupmanusia)

3.    Sistem mata pencarian (mata pencarian hidup dan Sistem ekonomi)

4.    Organisasi social ( sistem kemasyarakatan )

5.    System pengetahuan

6.    Religi

 

BAB 2

PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Banten

Provinsi Banten berdiri pada tahun 2000 berdasarkan Undang – Undang No. 23 tahun 2009 tentang Pembentukan Provinsi Banten.  Saat ini Provinsi Banten terdiri dari Kabupaten Lebak, Pandeglang, Serang, Tangerang,  Kota Cilegon, Tangerang dan Serang, Tangerang Selatan. Penduduk Banten berdasarkan sensus oleh BPS Provinsi Banten tahun 2010 berjumlah 10.644.030 juta jiwa dengan mayoritas penduduk memeluk agama Islam yaitu 88,53%.

Sebagai daerah yang strategis sebagai jalur perdagangan dunia, Banten mendapatkan berbagai pengaruh dari budaya dan agama yang dibawa dari berbagai pedagang yang singgah di Banten.  Berdasarkan cacatan sejarah, Islam masuk ke Banten diperkirakan pada akhir abad 15 Masehi.  Sebelum Islam masuk ke Banten, agama Hindu dan Budha telah terlebih dahulu berada di Banten.  Berdirinya Kesultanan Banten 1525 – 1813,  ikut pula mempengaruhi masuknya budaya Islam ke Banten yang selanjutnya mampu berakulturasi dengan budaya lokal Banten. Warisan  seni budaya tradisional masa kesultanan yang masih terpelihara hingga kini diantaranya : gacle, rudat, ubrug, patintung/pencak, syaman, beluk, terbang gede, ketimpring, mawalan, bendrong lesung, debus Surosowan.   Seni tradisional ini juga sering digunakan sebagai media penyebaran agama Islam di Banten.

 

 

2.2 BUDAYA BANTEN DAN PERUBAHAN-PERUBAHANNYA

Melalui unsur-unsur kebudayaan, kiranya dapat digambarkan keberadaan Banten dari masa pertama dan perkembangannya kini. Secara deskriptif dapat dikemukakan sbb :

A.          Bahasa

Sebelum kedatangan Syarif Hidayatullah di Banten bahasa penduduk yang pusat kekuasaan politiknya di Banten Girang, adalah bahasa Sunda. Sedangkan bahasa Jawa, dibawa oleh Syarif Hidayatullah, kemudian oleh puteranya, Hasanuddin, berbarengan dengan penyebaran agama Islam. Dalam kontak budaya yang terjadi, bahasa Sunda dan bahasa Jawa itu saling mempengaruhi yang pada gilirannya membentuk bahasa Jawa dengan dialek tersendiri dan bahasa Sunda juga dengan dialeknya sendiri. Artinya, bahasa Jawa lepas dari induknya (Demak, Solo, dan Yogya) dan bahasa Sunda juga terputus dengan pengembangannya di Priangan sehingga membentuk bahasa sunda dengan dialeknya sendiri pula; kita lihat misalnya di daerah-daerah Tangerang, Carenang, Cikande, dan lain-lain, selain di Banten bagian Selatan.

Bahasa Jawa yang pada permulaan abad ke-17 mulai tumbuh dan berkembang di Banten, bahkan menjadi bahasa resmi keraton termasuk pada pusat-pusat pemerintahan di daerah-daerah. Sesungguhnya pengaruh keraton itulah yang telah menyebabkan bahasa Jawa dapat berkembang dengan pesat di daerah Banten Utara. Dengan demikian lambat laun pengaruh keraton telah membentuk masyarakat berbahasa Jawa. Pada akhirnya, bahasa Jawa Banten tetap berkembang meskipun keraton tiada lagi.

Bahasa Jawa dimaksud dalam pengungakapannya menggunakan tulisan Arab (Pegon)  seperti kita temukan pada manuskript, babad, dan dokumen-dokumen tertentu. Penggunaan huruf Arab (Pegon) didorong oleh dan disebabkan karena :

Penggunaan aksara lama terdesak oleh huruf Arab setelah Islamisasi.

Huruf Arab menjadi sarana komunikasi kaum maju, sedangkan aksara menjadi alat komunikasi kaum elit/lama/feodal, ditambah pihak kolonial yang mengutamakan aksara Ijawa). Kaum maju tersebut adalah masyarakat pemberontak, atau setidak-tidaknya tidak setuju dengan adanya penguasaan asing sehingga huruf Arab dipergunakan sebagai sarana lebih aman dan juga rahasia.

Di lain pihak, terutama kaum lama, penggunan huruf Pegon memberikan corak Islam dalam tulisan yang tidak selalu bersifat Islam, sehingga lebih aman beredar/mengisi permintaan rakyat. Untuk mempermudah kajian dan penelitian isi, terutama masalah-masalah hukum, huruf Arab lalu disalin ke dalam tulisan (huruf) latin sebelum kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa lain, terutama Belanda. Bahasa Jawa dengan tulisan latin itu merupakan perkembangan kemudian karena pada aslinya menggunakan tulisan Arab. Demikian pula perkembangan perbendaharaan kata dipengaruhi oleh lingkungan bahasa Sunda, bahasa Arab, dan bahasa lain. Pada jaman penjajahan Belanda, ada juga pengaruh bahasa Belanda yang masuk ke dalam bahasa Jawa, misalnya sekola, yang semula ginau. Pada perkembangan sekarang, bahasa Jawa Banten ternyata juga dipengaruhi oleh bahasa Indonesia; mungkin demikian seterusnya, tetapi bahasa ini akan tetap ada sesuai dengan keberadaan pendukungnya.

B.           Sistem Pengetahuan

Pengetahuan manusia merupakan akumulasi dari tangkapannya terhadap nilai-nilai yang diacu dan dipahami, misalnya agama, kebiasaan, dan aturan-aturan. Pengetahuan manusia tidak berdiri sendiri melainkan berhubungan dengan elemen-elemen lain, dan karena itu maka disebut sistem pengetahuan. Salah satu (sistem) pengetahuan sebagai salah

satu unsur kebudayaan Banten adalah misalnya pengetahuan tentang kosmologi (alam semesta). Pada fase perkembangan awal pengetahuan tentang kosmologi orang Banten adalah bahwa alam ini milik Gusti Pangeran yang dititipkan kepada Sultan yang berpangkat Wali setelah Nabi. Karena itu hierarchi Sultan adalah suci.

Gusti Pangeran itu mempunyai kekuatan yang luar biasa yang sebagian kecil dari kekuatannya itu diberikan kepada manusia melalui pendekatan diri. Yang mengetahui formula-formula pendekatan diri untuk memperoleh kekuatan itu adalah para Sultan dan para Wali, karena itu Sultan dan para Wali itu sakti. Kesaktian Sultan dan para wali itu dapat disebarkan kepada keturunan dan kepada siapa saja yang berguru (mengabdi).

Pengetahuan yang berakar pada kosmologi tersebut masih ada sampai kini sehingga teridentifikasi dalam pengetahuan magis. Mungkin dalam perkembangan kelak tidak bisa diprediksi menjadi hilang, bahkan mungkin menjadi alternartif bersama-sama dengan (sistem) pengetahuan yang lain.

C.          Organisasi Sosial

Yang dimaksud dengan organisasi sosial adalah suatu sistem dimana manusia sebagai mahluk sosial berinteraksi. Adanya organisasi sosial itu karena ada ketundukan terhadap pranata sosial yang diartikan oleh Suparlan sebagai seperangkat aturan-aturan yang berkenaan dengan kedudukan dan penggolongan dalam suatu struktur yang mencakup suatu satuan kehidupan sosial, dan mengatur peranan serta berbagai hubungan kedudukan, dan peranan dalam tindakan-tindakan dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan.

Di antara bentuk organisasi sosial di Banten adalah stratifikasi sosial. Pada awal di jaman Kesultanan, lapisan atas dalam stratifikasi sosial adalah pada Sultan dan keluarganya/keturunannya sebagai lapisan bangsawan. Kemudian para pejabat kesultanan, dan akhirnya rakyat biasa. Pada perkembangan selanjutnya, hilangnya kesultanan, yang sebagian peranannya beralih pada Kiyai (kaum spiritual), dalam stratifikasi sosial merekalah yang ada pada lapisan atas. Jika peranan itu berpindah kepada kelompok lain, maka berpindah pulalah palisan itu.

 

D.          Sistem Religi

Yang dimaksud dengan sistem religi adalah hubungan antar elemen-elemen dalam upacara agama. Agama Islam sebagai agama resmi keraton dan keseluruhan wilayah kesultanan, dalam upacara-upacaranya mempunyai sistem sendiri, yang meliputi peralatan upacara, pelaku upacara, dan jalannya upacara. Misalnya dalam upacara Salat, ada peralatan-peralannya dari sejak mesjid, bedug, tongtong, menara, mimbar, mihrab, padasan (pekulen), dan lain-lain. Demikian pula ada pelakunya, dari sejak Imam, makmum, tukang Adzan, berbusana, dan lain-lain; sampai kemudian tata cara upacaranya.

Di jaman kesultanan, Imam sebagai pemimpin upacara Salat itu adalah Sultan sendiri yang pada transformasinya kemudian diserahkan kepada Kadi. Pada perubahan dengan tidak ada sultan, maka upacara agama berpindah kepemimpinannya kepada kiyai. Perkembangan selanjutnya bisa jadi berubah karena transformasi peranan yang terjadi.

E.           Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi

Kehidupan masyarakat memang memerlukan peralatan dan teknologi. Memperhatikan paralatan hidup dan teknologi dalam kebudayaan Banten, dapat diperoleh informasinya dari peninggalan masa lalu. Salah satu diantaranya misalnya relief, penemuan benda-benda arkeologis, dan catatan-catatan masa lalu. Di jaman kesultanan, kehidupan masyarakat ditandai dengan bertani, berdagang, dan berlayar termasuk nelayan. Dari corak kehidupan ini terlihat bahwa peralatan hidup bagi petani masih terbatas pada alat-alat gali dan lain-lain termasuk pemanfaatan hewan sebagai sumber energi.

Angkutan dan teknologi pelayaran masih memanfaatkan energi angin yang karenanya berkembang pengetahuan ramalan cuaca secara tradisional, misalnya dengan memanfaatkan tanda-tanda alam. Demikian pula teknik pengolahan logam, pembuatan bejana, dan lain-lain, memanfaatkan energi alam dan manusia. Tentu saja aspek (unsur kebudayaan) ini secara struktural mengalami perubahan pada kini dan nanti, meski secara fungsional mungkin tetap.

G.        Sistem Mata Pencaharian Hidup

Gambaran perkembangan mengenai hal ini untuk sejarah manusia, akan tersentuh dengan kehidupan primitif, dari hidup berburu sampai bercocok tanam. Hubungannya dengan kebudayaan Banten, sistem mata pencaharian hidup sebagai salah satu unsur kebudayaan, terlihat dari jaman kesultanan. Mata pencaharian hidup dari hasil bumi menampilkan adanya pertanian. Dalam sistem pertanian itu ada tradisi yang masih nampak, misalnya hubungan antara pemilik tanaman (petani) dan orang-orang yang berhak ikut mengetam dengan pembagian tertentu menurut tradisi.

Dalam nelayan misalnya ada sistem simbiosis antara juragan dan pengikut-pengikutnya dalam usaha payang misalnya. Kedua belah pihak dalam mata pencaharian hidup itu terjalin secara tradisional dalam sistem mata pencaharian. Mungkin pula hubungan itu menjadi hubungan kekerabatan atau hubungan Patron-Clien. Pada masa kini kemungkinan sistem tersebut sudah berubah, disamping karena perubahan mata pencaharian hidup, juga berubah dalam sistemnya karena penemuan peralatan (teknologi) baru. Demikian pula kemungkinan di masa yang akan datang.

H.          Kesenian

Kesenian adalah keahlian dan keterampilan manusia untuk menciptakan dan melahirkan hal-hal yang bernilai indah. Ukuran keindahannya tergantung pada kebudayaan setempat, karena kesenian sebagai salah satu unsur kebudayaan. Dari segi macam-macamnya, kesenian itu terdapat banyak macamnya, dari yang bersumber pada keindahan suara dan pandangan sampai pada perasaan, bahkan mungkin menyentuh spiritual.

Ada tanda-tanda kesenian Banten itu merupakan kesenian peninggalan sebelum Islam dan dipadu atau diwarnai dengan agama Islam. Misalnya arsitektur mesjid dengan tiga tingkat sebagai simbolisasi Iman, Islam, Ihsan, atau Syari’at, tharekat, hakekat. Arsitektur seperti ini berlaku di seluruh masjid di Banten. Kemudian ada kecenderungan berubah menjadi bentuk kubah, dan mungkin pada bentuk apa lagi, tapi yang nampak ada kecenderungan lepas dari simbolisasi agama melainkan pada seni itu sendiri.

Arsitektur rumah adat yang mengandung filosofi kehidupan keluarga, aturan tabu, dan nilai-nilai prifasi, yang dituangkan dalam bentuk ruangan paralel dengan atap panggung Ikan Pe, dan tiang-tiang penyanggah tertentu. Filosofi itu telah berubah menjadi keindahan fisik sehingga arsitekturnya hanya bermakna aestetik. Mengenai kesenian lain, ada pula yang teridentifikasi kesenian lama (dulu) yang belum berubah, kecuali mungkin kemasannya. Kesenian-kesenian dimaksud ialah :

  1. Seni Debus Surosowan Gambar
  1. Seni Debus Pusaka Banten
  2. Seni Rudat
  3. Seni Terbang Gede Gambar

 

  1. Seni Patingtung
  2. Seni Wayang Golek
  3. Seni Saman
  4. Seni Sulap-Kebatinan
  5. Seni Angklung Buhum Gambar
  6. Seni Beluk
  7. Seni Wawacan Syekh
  8. Seni Mawalan
  9. Seni Kasidahan
  10. Seni Gambus
  11. Seni Reog
  12. Seni Calung
  13. Seni Marhaban
  14. Seni Dzikir Mulud
  15. Seni Terbang Genjring
  16. Seni Bendrong Lesung Gambar
  17. Seni Gacle
  18. Seni Buka Pintu
  19. Seni Wayang Kulit
  20. Seni Tari Wewe
  21. Seni Adu Bedug Gambar
  22. Dan lain-lain

Kesenian-kesenian tersebut masih tetap ada, mungkin belum berubah kecuali kemasan-kemasannya, misalnya pada kesenian kasidah dan gambus. Relevansi kesenian tradisional ini mungkin, jika berkenaan dengan obyek kajian penelitian maka yang diperlukan adalah orsinilitasnya. Tetapi jika untuk kepentingan pariwisata maka perlu kemasan yang menarik tanpa menghilangkan substansinya.Walaupun mungkin, secara umum kesenian-kesenian tersebut akan tunduk pada hukum perubahan sehubungan dengan pengaruh kebudayaan lain. Mungkin karena tidak diminati yang artinya tidak ada pendukung pada kesenian itu, bisa jadi lama atau tidak, akan punah. Karena itu, mengenai kesenian yang tidak boleh lepas dari nilai-nilai Kebudayaan Banten, bisa jadi atau malah harus ada perubahan kemasan.

Banten sebagai komunitas kutural memang mempunyai kebudayaannya sendiri yang ditampilkan lewat unsur-unsur kebudayaan. Dilihat dari unsur-unsur kebudayaan itu, masing-masing unsur berbeda pada tingkat perkembangan dan perubahannya. Karena itu terhadap unsur-unsur yang niscaya harus berkembang dan bertahan, harus didorong pula bagi pendukungnya untuk terus menerus belajar (kulturisasi) dalam pemahaman dan penularan kebudayaan.

Kalau boleh dikatakan, menangkap potret budaya Banten adalah upaya yang harus serius, kalau tidak ingin menjadi punah. Kepunahan suatu kebudayaan sama artinya dengan lenyapnya identitas. Hidup tanpa identitas berarti berpindah pada identitas lain dengan menyengsarakan identitas semula.

3. Penutup

3.1 Penutup

Banten sebagai komunitas kutural memang mempunyai kebudayaannya sendiri yang ditampilkan lewat unsur-unsur kebudayaan. Dilihat dari unsur-unsur kebudayaan itu, masing-masing unsur berbeda pada tingkat perkembangan dan perubahannya. Karena itu terhadap unsur-unsur yang niscaya harus berkembang dan bertahan, harus didorong pula bagi pendukungnya untuk terus menerus belajar (kulturisasi) dalam pemahaman dan penularan kebudayaan.

Kalau boleh dikatakan, menangkap deskripsi budaya Banten adalah upaya yang harus serius, kalau tidak ingin menjadi punah. Kepunahan suatu kebudayaan sama artinya dengan lenyapnya identitas. Hidup tanpa identitas berarti berpindah pada identitas lain dengan menyengsarakan identitas semula.

 

 

3.2 Daftar Pustaka

http.google.com/budaya banten

http.humaspdg.wordpress.com

http.wikipedia.org/wiki/banten

http://bantentour.com/keragaman-budaya-tradisional-banten.html

www.bantenologi.org

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s