Strategi Mengajar Untuk Memotivasi Anak Dalam Menempuh Pendidikan

Strategi Mengajar Untuk Memotivasi Anak Dalam Menempuh Pendidikan

BAB I

PENDAHULUAN

1.1           Latar Belakang

Pendidikan anak usia dini merupakan upaya untuk menstimulasi,membimbing, mengasuh dan memberikan kegiatan pembelajaran yang mampumenghasilkan kemampuan dan keterampilan anak. Pendidikan anak usia dinimerupakan suatu pendidikan yang dilakukan pada anak sejak lahir hingga usiadelapan tahun.

Pendidikan anak usia dini harus berlandaskan pada kebutuhan anak, yang disesuaikan dengan nilai-nilai yang dianut di lingkungan di sekitarnya, sesuai dengan tahap perkembangan fisik dan psikologis anak, dilaksanakan dalam suasana bermain yang menyenangkan serta dirancang untuk mengoptimalkan potensi anak.

Proses pembelajaran harus diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, agar memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Proses pembelajaran akan optimal jika didukung dengan pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan dan minat anak.

1.2       Rumusan masalah:

1. Mengapa motivasi anak akan pendidikan berkurang.
2. Bagai mana cara menumbuhkembangkan motivasi anak untuk belajar.
3. Penyebab motivasi untuk belajar menurun.

BAB II

ISI

2.1 Strategi Mengajar Untuk Memotivasi Anak Dalam Menempuh Pendidikan

Tentang  Strategi untuk motivasi anak banyak didefinisi yang telah dikemukakan oleh para ahli. Salah satu pengertian motivasi yang cukup mewakili berbagai pendapat, dikemukakan oleh beberapa pakar bahwa motivasi adalah suatu proses yang menghasilkan suatu intensitas, arah dan ketekunan individual dalam usaha untuk mencapai suatu tujuan  .Dari pengertian ini ada tiga kata kunci yaitu intensitas, tujuan dan ketekunan. Intensitas menyangkut seberapa keras anak melakukan usaha. Dikatakan anak memiliki motivasi yang tinggi jika mampu menggunakan berbagai sumber daya yang ada secara maksimal. Tetapi intensitas yang tinggi belum tentu membawa hasil yang diingkan tanpa diarahkan ke suatu tujuan. Karena itu bisa dikatakan memiliki motivasi yang tinggi jika usahanya itu difokuskan pada suatu tujuan. Motivasi juga berhubungan dengan ketekunan. Ini menyangkut seberapa lama anak mampu bertahan dalam menempuh pendidikannya. Jika menghadapi kesulitan,anak memiliki motivasi terkadang mudah menyerah. Oleh karena itu motivator atau orang tua di haruskan selalu berusaha mencari celah dari setiap kesulitan yang dihadapi anak. Seharusnya orang tua mempunya dukungan terhadap anak bahwa tidak ada kesulitan yang tidak teratasi asalkan anak itu sendiri mau berpikir secara kreatif dan menggunakan berbagai cara untuk mengatasinya dengan upaya – upaya motivasi tertentu agar anak mudah dalam menempuh pendidikannya.

Upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk memotivasi  anak dalam menempuh pendidikan dari segi orang tua adalah sebagai berikut:

  • Jalin hubungan yang harmonis dengan anak.

Hubungan yang dekat dan harmonis dengan anak merupakan prasyarat untuk dapat mengenali karakteristik anak yang penting dalam rangka memberikan motivasi belajar kepada anak.

  • Kenali karakteristik anak.

Karakteristik anak demikian unik, maksudnya bahwa tidak ada dua individu anak yang memiliki karakteristik sifat, bakat, kemampuan yang sama. Itulah sebabnya, dalam memberikan dorongan belajarnya pun harus disesuaikan dengan karakteristik anak yang bersangkutan, sehingga anak tersebut akan meresponnya dengan perasaan senang. Untuk dapat menanamkan agar anak memiliki motivasi belajar yang tinggi, maka guru dan orang tua terlebih dahulu harus mengenali bakat, minat, dan kemampuan seorang anak.

  • Tanamkan cara pandang yang positif tentang manfaat belajar.

Cara pandang adalah suatu kecenderungan seseorang dalam menginterpretasikan sesuatu hal yang dapat menentukan suatu penilaian dan sekaligus mempengaruhi respon kita terhadap sesuatu hal termasuk masalah belajar. Dengan cara pandang yang positif terhadap manfaat belajar, maka seseorang akan memiliki motivasi belajar yang tinggi.

  • Tumbuhkan cita-cita anak setinggi-tingginya.

Dengan tertanamnya suatu cita-cita yang tinggi mau tidak mau akan mendorong seseorang untuk berupaya sekuat tenaga untuk mencapai apa yang dicita-citakannya. Dengan tumbuhnya cita-cita pada seorang anak, maka akan menjadi pendorong untuk giat belajar tanpa merasa terpaksa dan tertekan.

  • Ubah perspektif anak bahwa belajar itu tidak sulit.

Banyak terjadi kalah sebelum berperang. Bila seorang anak mendengar kata misalnya “Pelajaran Matematika”, biasanya langsung terbayang bahwa pelajaran matematika itu suatu pelajaran yang sulit, dan bisa diduga untuk selanjutnya anak menjadi enggan dan takut untuk belajar matematika. Padahal bila di atidak memiliki gambaran yang negatif dan berupaya mempelajari pelajaran matematika tersebut, bisa jadi dia sebaliknya akan menyenangi pelajaran matematika itu. Oleh sebab itu, penting sekali kepada seorang anak diberikan gambaran bahwa semua mata pelajaran itu tidak ada yang sulit bila kita mau mempelajarinya dengan baik.

  • Layani dan fasilitasi belajar anak dengan baik.

Guru dan orang tua harus mengubah paradigma lama yang memandang bahwa guru dan orang tua yang menentukan segala-galanya, dengan paradigma baru yang memposisikan bahwa guru dan orang tua sebagai fasilitator yang bijaksana yang memfasilitasi agar seorang anak dapat mengembangkan potensi dirinya baik sikap, pengetahuan, maupun keterampilan melalui pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.

Poin-poin tersebut di atas harus dilakukan secara konsisten dan berulang-ulang hingga menjadi suatu kebiasaan dan menyatu dengan jiwa anak. Sehingga melalui pendekatan-pendekatan seperti tersebut di atas, tujuan pendidikan nasional tentang kecerdasan maupun sikap mental anak-anak bangsa sebagaimana diharapkan akan tercapai secara optimal.

Adapun paya-upaya yang dapat dilakukan untuk memotivasi  anak dalam menempuh pendidikan dari segi guru adalah sebagai berikut:

1. Memberi angka

Angka dalam hal ini sebagai simbol dari nilai kegiatan belajarnya. Banyak siswa yang justru untuk mencapai angka/nilai yang baik. Sehingga yang dikejar hanyalah nilai ulangan atau nilai raport yang baik. Angka-angka yang baik itu bagi para siswa merupakan motivasi belajar yang sangat kuat. Yang perlu diingat oleh guru, bahwa pencapaian angka-angka tersebut belum merupakan hasil belajar yang sejati dan bermakna. Harapannya angka-angka tersebut dikaitkan dengan nilai afeksinya bukan sekedar kognitifnya saja.

2. Hadiah

Hadiah dapat menjadi motivasi belajar yang kuat, dimana siswa tertarik pada bidang tertentu yang akan diberikan hadiah. Tidak demikian jika hadiah diberikan untuk suatu pekerjaan yang tidak menarik menurut siswa.

3. Kompetisi

Persaingan, baik yang individu atau kelompok, dapat menjadi sarana untuk meningkatkan motivasi belajar. Karena terkadang jika ada saingan, siswa akan menjadi lebih bersemangat dalam mencapai hasil yang terbaik.

4. Ego-involvement

Menumbuhkan kesadaran kepada siswa agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai tantangan sehingga bekerja keras adalah sebagai salah satu bentuk motivasi yang cukup penting. Bentuk kerja keras siswa dapat terlibat secara kognitif yaitu dengan mencari cara untuk dapat meningkatkan motivasi belajar.

5. Memberi Ulangan

Para siswa akan giat belajar kalau mengetahui akan diadakan ulangan. Tetapi ulangan jangan terlalu sering dilakukan karena akan membosankan dan akan jadi rutinitas belaka.

6. Mengetahui Hasil

Mengetahui hasil belajar bisa dijadikan sebagai alat motivasi belajar anak. Dengan mengetahui hasil belajarnya, siswa akan terdorong untuk belajar lebih giat. Apalagi jika hasil belajar itu mengalami kemajuan, siswa pasti akan berusaha mempertahankannya atau bahkan termotivasi untuk dapat meningkatkannya.

7. Pujian

Apabila ada siswa yang berhasil menyelesaikan tugasnya dengan baik, maka perlu diberikan pujian. Pujian adalah bentuk reinforcement yang positif dan memberikan motivasi yang baik bagi siswa. Pemberiannya juga harus pada waktu yang tepat, sehingga akan memupuk suasana yang menyenangkan dan mempertinggi motivasi  belajar serta sekaligus akan membangkitkan harga diri.

8. Hukuman

Hukuman adalah bentuk reinforcement yang negatif, tetapi jika diberikan secara tepat dan bijaksana, bisa menjadi alat motivasi belajar anak. Oleh karena itu, guru harus memahami prinsip-prinsip pemberian hukuman tersebut.

BAB 3

Penutup

3.1 Kesimpulan
            Bagaimana cara menumbuhkembangkan motivasi belajar pada anak adalah dengan cara pendekatan secara fisik dan mental. Yang terpenting adalah mental, karena setiap pemikiran orang dewasa dan anak-anak berbeda. Harus di tumbuhkembangkan setiap motivasi-motivasi belajar pada anak usia dini, dengan cara yang menyenangkan dan tidak terlalu menekan
pelajaran pada anak, karena pada dasarnya setiap anak memiliki cara belajar lebih condong belajar sambil bermain, bukan hanya belajar.
Sikap guru serta peran orang tua juga sangat berperan aktif dalam perkembangan motivasi belajar anak. Guru hanya sebagai mobilisasi antara keinginan anak yang belum tercapai dan keinginan anak untuk mencapainya.

3.2 DAFTAR PUSTAKA

http://makalah.blogspot.com/2011/10/faktor-faktor-yang-mempengaruhi.html

http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Terbaru/Terbaru/karakteristik.gaya.belajar.anak/001/007/1093/3

http://www.mamansoleman.net/2012/07/menumbuhkan-motivasi-belajar-anak.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s